Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Hari Biasa

Hari itu hari Kamis. Aku menjalani hari-hari sekolahku di SMA tempatku belajar seperti biasa. Aku belajar, istirahat, makan, kembali belajar, istirahat lagi, beribadah yang kemudian dilanjut dengan makan, belajar, dan akhirnya pulang ke rumah. Tidak ada hal istimewa yang terjadi selama aku berada di sekolah waktu itu, namun, tanpa alasan yang aku sendiri mengerti, aku merasa kepalaku sangat berat, aku merasa begitu mengantuk. Setelah semua aktivitas sekolah itu, aku merasa sangat kelelahan sampai-sampai di tempat parkir yang tidak diisi begitu banyak motor, aku lupa motorku yang mana. Akhirnya, aku pun ingat dan tanpa begitu memedulikan kondisiku yang seperti itu, aku pun pulang sambil menahan beratnya kelopak mataku.

[Cerpen] deViant #1: AKU NPC

Segerombolan orang-orang yang berada di depanku saat ini adalah mereka yang biasa disebut dengan sebutan “Player”. Sedangkan kami, orang-orang yang tiada hentinya melayani kebutuhan mereka biasa disebut dengan “NPC”. Dan dunia ini adalah dunia kedua mereka, sedangkan bagi kami ini adalah satu-satunya dunia yang bisa kami tinggali. Berbeda dengan mereka, kami tidak memiliki kemauan kami sendiri. Kami bahkan tidak merasa membutuhkan hal yang disebut dengan “kemauan sendiri” ini.  Kami hanya bertindak sesuai atas kehendak pencipta kami, para developer. Mereka adalah yang maha mengatur kami, menciptakan kami sehingga kami hidup di sini untuk melayani para player. Meski mereka adalah pencipta, tidak satupun di antara kami ada yang meninggikan mereka seperti apa yang para player lakukan pada pencipta mereka di dunia mereka yang pertama.  Kami diciptakan untuk melayani, menghidupi, dan menyediakan segala hal yang mereka perlukan demi menjalani petualangan penuh warna mereka...

reWRITE [Epilogue]

<< Sebelumnya Epilogue

reWRITE [Part 7]

<< Sebelumnya “’ Kematian harus dibayar dengan kematian lainnya’ , iya, kan? Aku rela mati demi kebahagiaanmu.” “Tidak! Tidak, aku-... aku tidak mungkin bahagia tanpamu!” “Kau berhasil memutar waktu hanya untuk ini, kan? Dan jika memang akulah bayarannya, aku akan menerimanya. Karna aku sayang kamu, Winar.” Winar sangat tidak sanggup melihat kepergian calon istrinya yang ia sayangi itu. Di saat Winar mencoba menahan air matanya yang mengalir deras di pipinya, wanita itu berkata kepada Winar, “Berjanjilah padaku, Winar. Jagalah ibumu baik-baik. Karna itu yang menjadi alasanmu untuk memulai ini semua. Dan jangan sesali kepergianku. Ya?” Senyumnya.

Toki no Kami [Short Version]

Muto Tokio adalah seorang pria muda yang imajinatif. Pandangannya terhadap dunia berbeda dengan orang pada umumnya. Angan-angan yang menghantui pikirannya juga terbilang tidak wajar di telinga orang jika diutarakan dengan keras olehnya. Suatu pagi dalam perjalanan ke sekolahnya, Muto yang sedang melamun tanpa sadar mengutarakan keinginannya untuk bisa menghentikan waktu. Dan di saat yang bersamaan, suatu zat tak terlihat mendengar keinginannya dan tersenyum sambil tertawa kecil.

reWRITE [Part 6]

<< Sebelumnya Halo, berjumpa lagi dengan saya, Narator #1. Ah, ini? Tidak, saya tidak apa-apa. Saya tidak banyak tampil di cerpen ini. Setidaknya seharusnya saya membacakan narasi cerita ini, tapi, jiwa anak muda memang semaunya sendiri, ya. Hahaha. Ehem! Ya, pokoknya sekarang saya yang akan membawakan cerita ini. Setidak-tidaknya satu part ini. Saya juga diperbolehkan untuk menarasikan cerita ini dengan satu syarat; gak boleh banyak basa-basi. Setelah saya siuman, saya disambut oleh orang yang mengaku sebagai teman dari pelaku pemukulan saya. Tidak lama kemudian, dia menyampaikan syarat itu ke saya. Awalnya saya ragu, tapi, setelah saya pikirkan kembali, sepertinya tidak ada salahnya mencoba lagi. Ya, kan? Hahaa... ( Grrrr- ) ha... ( rrrrr!!) Ehem! Ka-kalau begitu, kita lanjutkan saja ceritanya. Sepulang sekolah, Andini yang sudah membuat janji untuk bertemu dengan Melati sedang merapikan dan memasukan buku-bukunya ke dalam tas. Wajahnya terlihat cemas, seakan sedang m...

reWRITE [Part 5]

<< Sebelumnya Terus, Guntur buka software itu. Dan semacem panduan pemakaian muncul. " Welcome to ReWrite 2. " “Wooh, yang ini lebih bagus User Interface nya! Ada suara pemandunya juga. Keren!” “Gun... itu gak penting sekarang.” “Ehem! Maap.” “We will rewrite what can't be rewritten. Which includes your CD-R, DVD-R, and many more stuff that couldn't ever be rewritten. But, our specialty is to   rewrite your past” “Lu kaga tau betapa skeptiknya gue saat baca tiga kata terkhir itu tadi, Din.” “Mm.” “’Mm’ doang?” “Lagian mau bilang apaan? Aku juga gak percaya. Aku sendiri belom pernah muter waktu, Gun.” “A-Ah. Ya udah kalo gitu.” “ To rewrite your past, simply put the date you want to back to and click the GO button and go to sleep. Then, your senses will be sent to the past for you to rewrite your own history. Easy, right? "

reWRITE [Part 4]

<< Sebelumnya Beberapa jam lalu "Wednesday, 26th April 2042!!! (menekan GO dengan semangat) Haaaah~ haaaah~ sekarang... gue... haaah~ cuma perlu tidur... haaah~ HAAAAH!!!! BEGO! BEGO! BEGO!” Terus, gue tidur. Gue... masih gak percaya sama omong kosong kakek gue. Tapi, cuma ini pilihan selain ngebiarin kepergian Melati. Akhirnya… bentar… ini… “ Ini pernah kejadian!” Spontan gue lompat dari tempat tidur gue. Gue akhirnya sadar kalo gue selama ini udah muter ulang waktu berkali-kali demi nyelamatin Melati. Tapi usaha gue selalu berujung nol. Karna tiap kali gue puter ulang waktu, gue ilang ingatan kalo gue dateng dari masa depan dan semua jadi gak ada gunanya. Tapi kali ini… gue inget. Dan gue harus gunain kesempatan ini buat ngubah arah cerita. “Itu sebabnya gue ke sini nemuin lu. Gue inget Melati punya temen main pas dia di SMP dan dia deket sama temennya itu. Dan temennya itu adalah lu, Din.”

reWRITE [Part 3]

<< Sebelumnya Apa dia dari...? "Gimana, Mel? Dia mau ikut gak?" "Aah~ Dia mah mana mungkin mau. Ahaha" "Haha. Berarti sesuai rencana dong?" "Yaap~" "Tapi... kamu bener gak apa-apa?" "Din... aku datang dari tempat berbeda dari kalian. Tugasku di sini, ya... untuk ini." "... Aku masih agak gak ngerti, Mel. Tapi kamu keliatannya serius banget, jadi aku gak punya pilihan lain selain percaya sama kamu." "Hehe terima kasih, Andini." "Mmm... kalo kamu bukan Melati, lalu Melati sekarang ada di mana?" "Melati mu aman ada di dunia ku." "... mmm... Gimana caranya dia ke sana? Gimana caranya dia ke sini lagi?" "Semua bergantung bagaimana jalannya rencanaku. Sejauh ini bagus. Dan semoga, Guntur yang ini bukan Guntur yang sudah tahu masa depan kita." "... Semoga. Tapi kalo ternyata dia itu Guntur dari masa depan?" "... Guntur ya...

reWRITE [Part 2]

<< Sebelumnya 5 hari kemudian. "Gun, kamu masih gak mau sekolah?" "..." "... Gun, ibu ngerti perasaan kamu. Tapi kamu gak boleh begini terus." "... Ibu... bisa keluar kamarku sebentar, gak? Guntur... lagi mau sendiri." "... “ Ibu, pun keluar dari kamar gue. Gue... gak tau kenapa, ngerasa bersalah sama apa yang udah nimpa temen gue. Gue seakan-akan udah tau apa yang bakal kejadian. Gue... udah tau, tapi... gue... gue lupa...? Terus, ada yang ngetok pintu kamar gue. "... Bu, udah Guntur bilangin, Guntu-" "Iya. Tapi ini ada kiriman paket dari kakekmu." "Ha... ? ...” Pelan-pelan gue yang kebingungan ini bangun dari kasur. "Paketnya ibu taro sini, ya?" "Y-ya, bu." Gak lama abis ibu tinggal, gue buka pintu kamar gue dan gue ambil paket itu. Paketnya cuma satu flash drive sama semacem catetan dari kakek gue.

reWRITE [Part 1]

reWRITE Gunis, begitu panggilannya. Siswa SMA yang bernama asli Guntur Iskandar ini adalah seorang siswa terpandai di kelasnya. Mengapa tidak terpandai di sekolahnya? Melati Intan Permata Ani, teman dekatnya lah yang menyandang gelar itu. Melati, atau bisa juga disebut MIP karna kebiasaan Gunis yang suka menyingkat-nyingkat nama (panggilan Gunis juga datang dari dirinya sendiri), sudah berteman lama sejak mereka berada di taman kanak-kanak. Istilah berteman atau bermusuhan tidak begitu cocok menggambarkan hubungan mereka. Istilah yang tepat mungkin adalah Friendly Rival . Sejak mereka TK yang mereka lakukan hanyalah bersaing satu sama lain. Namun, tidak pernah di antara mereka ada yang menggunakan kecurangan sebagai jalan pintas mencapai puncak yang ingin mereka ra- CUKUP BASA-BASINYA!!! *narator pingsan dipukul makhluk antah berantah* *saya bukan narator* *saya hanya membantu proses jalannya- LU JUGA!!! *...ampun* Cih! Udeh. Kenalin Gue Gunis. Gue yang bakal gantiin narator...